Kontraktor STP Apartemen | Kontraktor IPAL Jakarta | Kontraktor WWTP Indonesia
Fungsi Penambahan persenyawaan kimia pada pengolahan air

Fungsi Penambahan Persenyawaan Kimia Dalam Air : Koagulan Flokulan

Fungsi Penambahan Persenyawaan Kimia Dalam Air

 

 

Assalamualaikum Wr.wb.

Ketemu lagi sama Mr.adiet Abdillah ( Masternya Water Treatment ) hehehehe….

ane mw berbagi info harian lagi nih
tentang fungsi dari penambahan persenyawaan kimia ke dalam pengolahan air khususnya air minum
Tentunya dalam mengolah air , kita pasti menambahkan bahan kimia baik dalam jumlah banyak ataupun sedikit
nah kita harus tau nih fungsi dari bahan kimia yang kita tambahkan agar tidak salah dalam proses pengolahannya

Berikut penjelasnnya

Nama Senyawa Kimia
Rumus Senyawa Kimia
Penggunaan
Karbon Aktif
C
Kontrol Bau dan Rasa
Alumunium sulfat
Al2(SO4)3
Koagulasi
Ammonium sulfat
(NH4)2SO4
Koagulasi
Kalsium Hidroksida
Ca(OH)2
Pelunakan Air
Kalsium Hipoklorit
Ca(Clo)2
Desinfeksi
Kalsium Oksida
CaO
Pelunakan Air
Karbon dioksida
CO2
Rekarbonasi
Khlorine
Cl2
Desinfeksi
Khlorine dioksida
ClO2
Kontrol bau dan rasa
Copper sulfat
CuSO4
Control alga
Ferri chloride
FeCl3
Koagulasi
Ferri Sulphate
Fe2(SO4)3
Koagulasi
Ferro sulphate
FeSO4
Koagulasi
Asam Fluosilikat
H2SiF6
Fluoridasi
Magnesium Hidroksida
Mg(OH)2
Defluoridasi
Kalium Permanganat
KMnO4
Oksidasi
Sodium Aluminat
NaAlO2
Koagulasi
Sodium Bicarbonat
NaHCO3
Kontrol pH
Sodium Carbonat
Na2CO3
Pelunakan air
Sodium Khlorida
NaCl
Regenerasi Pertukaran Ion
Sodium Fluorida
NaF
Fluoridasi
Sodium Fluosilikat
Na2SiF6
Fluoridasi
Sodium heksa metafosfat
(NaPO3)n
Kontrol Korosi
Sodium hidroksida
NaOH
Pengaturan PH
Sodium Hipokhlorit
NaOCl
Desinfeksi
Sodium Silikat
Na2SiO3
Bahan Pembantu Koagulasi
Natrium Thiosulfat
Na2S2O3
Dekhlorinasi
Sulfur dioksida
SO2
Dekhlorinasi
Asam sulfat
H2SO4
Pengaturan pH
Amoniak
NH3
Desinfeksi Khloramine

 

Pengecekan Koagulan Flokulan Air LimbahDalam rekayasa pengolahan air—baik untuk air bersih (*Water Treatment Plant*/WTP) maupun air limbah (*Wastewater Treatment Plant*/WWTP)—penambahan bahan kimia bukanlah pilihan, melainkan sebuah kebutuhan fundamental. Reaksi kimia merupakan pilar dalam menghilangkan kontaminan yang tidak dapat dihilangkan sepenuhnya oleh proses fisika (filtrasi) atau biologis (aktivitas bakteri). Keberhasilan proses pengolahan air limbah industri yang kompleks, yang menargetkan logam berat, minyak/lemak, atau TSS, sangat bergantung pada penggunaan **Koagulan Flokulan Air Limbah** yang tepat.

Artikel ini akan mengupas tuntas berbagai fungsi penambahan senyawa kimia dalam siklus pengolahan air, mulai dari penjernihan hingga desinfeksi, dan menekankan peran vital **Koagulan Flokulan Air Limbah** dalam menjamin kualitas air buangan industri.

1. Koagulasi dan Flokulasi: Kunci Pemisahan Partikel Halus


Koagulasi dan flokulasi adalah dua tahap kimia-fisika yang saling melengkapi dan sangat esensial. Proses ini bertujuan menghilangkan partikel koloid (partikel halus tersuspensi) yang terlalu ringan dan bermuatan negatif, sehingga tidak dapat mengendap secara alami dalam bak sedimentasi.

a. Koagulan (Netralisasi Muatan)

Koagulan (seperti Aluminium Sulfat ($\text{Al}_2(\text{SO}_4)_3$), Ferric Chloride ($\text{FeCl}_3$), atau Poly Aluminium Chloride (PAC)) ditambahkan pertama kali dengan pengadukan cepat (*rapid mixing*). Koagulan berfungsi menetralkan muatan negatif partikel koloid. Ion positif dari koagulan akan mengompres lapisan awan ionik partikel, menyebabkan destabilisasi, sehingga partikel kecil mulai menggumpal membentuk gumpalan mikro. Penggunaan **Koagulan Flokulan Air Limbah** yang tepat di awal dapat mengurangi beban proses selanjutnya hingga 50%.

Contoh reaksi koagulasi (menggunakan alum, yang membentuk hidroksida yang menjebak partikel):

$$\text{Al}_2(\text{SO}_4)_3 + 6\text{H}_2\text{O} \rightleftharpoons 2\text{Al}(\text{OH})_3 \downarrow + 3\text{H}_2\text{SO}_4$$

Produk $\text{Al}(\text{OH})_3$ yang tidak larut ini bertindak sebagai jaring yang memerangkap partikel halus. Dosis **Koagulan Flokulan Air Limbah** harus dioptimalkan melalui uji *jar test* di laboratorium.

Koagulan  Flokulan pada Proses WWTP
Jar Test Dilakukan untuk menentukan Jumlah bahan kimia untuk Koagulasi dan Flokulasi

b. Flokulan (Pembentukan Flok Besar)

Flokulan (biasanya polimer organik berantai panjang, anionik atau kationik) ditambahkan setelah koagulasi dengan pengadukan lambat (*slow mixing*). Flokulan bekerja sebagai jembatan, mengikat gumpalan mikro yang sudah terbentuk menjadi gumpalan yang lebih besar, lebih padat, dan lebih berat yang disebut flok. Flok yang padat ini akan mengendap dengan cepat di bak sedimentasi. Kombinasi yang efektif dari **Koagulan Flokulan Air Limbah** memastikan Total Suspended Solids (TSS) dan kekeruhan air limbah dapat dihilangkan secara maksimal.

Lihat Juga : 4 Cara WWTP Pabrik Gula Mengkonversi Biogas Pabrik Gula Menjadi Listrik

2. Penyesuaian pH (Netralisasi)


Banyak air limbah industri (terutama dari industri logam, tekstil, dan kimia) memiliki pH yang sangat ekstrem (asam atau basa). Penyesuaian pH sangat penting karena dua alasan:

  1. **Proteksi Lingkungan:** Air buangan yang dilepas ke sungai/badan air harus memiliki pH antara 6–9 sesuai BMAL.
  2. **Efisiensi Proses:** Proses biologis (WWTP) hanya berjalan optimal pada pH 6.5–8.5. Proses koagulasi juga memiliki rentang pH optimum.

Zat kimia yang digunakan meliputi Basa (seperti Natrium Hidroksida ($\text{NaOH}$) atau Kapur ($\text{Ca}(\text{OH})_2$)) untuk menaikkan pH, atau Asam (seperti Asam Sulfat ($\text{H}_2\text{SO}_4$)) untuk menurunkannya. Reaksi sederhana netralisasi:

$$\text{H}_2\text{SO}_4 + 2\text{NaOH} \to \text{Na}_2\text{SO}_4 + 2\text{H}_2\text{O}$$

Penggunaan **Koagulan Flokulan Air Limbah** dan bahan kimia netralisasi yang diintegrasikan dengan *dosing pump* otomatis adalah praktik standar.

3. Penghilangan Logam Berat (Reduksi dan Presipitasi)


Air limbah dari industri pelapisan logam sering mengandung logam berat beracun seperti Kromium Heksavalen ($\text{Cr}^{6+}$). $\text{Cr}^{6+}$ sangat toksik dan tidak dapat dihilangkan secara biologis. Proses kimia diperlukan untuk mengubah logam berat ini menjadi bentuk yang tidak larut dan dapat diendapkan.

Lihat Juga 5 Peran Cooling Tower Pabrik Gula Untuk Menstabilkan Air Limbah

a. Reduksi

Mula-mula, $\text{Cr}^{6+}$ direduksi menjadi Kromium Trivalen ($\text{Cr}^{3+}$) menggunakan zat pereduksi (seperti Natrium Bisulfit, $\text{NaHSO}_3$) dalam kondisi pH asam (pH 2–3).

b. Presipitasi (Pengendapan)

Setelah direduksi, pH dinaikkan (menggunakan $\text{NaOH}$) hingga pH 8–10. Kenaikan pH ini menyebabkan $\text{Cr}^{3+}$ mengendap sebagai Kromium Hidroksida ($\text{Cr}(\text{OH})_3$), yang merupakan padatan tidak larut. Endapan ini kemudian diikat oleh **Koagulan Flokulan Air Limbah** agar mudah dipisahkan dari air limbah. Kontrol ketat dosis dan pH sangat penting dalam proses ini.

Apakah Proses Kimia IPAL Anda Sudah Optimal?

Dapatkan Audit Dosis dan Supply **Koagulan Flokulan Air Limbah** Berkualitas dari PT ROFIS JAYA PERKASA.


📞 Klik Disini Untuk Menghubungi Tim Kami

4. Desinfeksi: Membunuh Patogen


Proses desinfeksi, terutama penting untuk air limbah domestik dan rumah sakit, bertujuan menghilangkan bakteri, virus, dan mikroorganisme patogen. Zat kimia yang paling umum digunakan adalah Klorin (biasanya dalam bentuk Natrium Hipoklorit, $\text{NaOCl}$) atau Kalsium Hipoklorit.

Ketika $\text{NaOCl}$ ditambahkan ke air, ia menghasilkan Asam Hipoklorit ($\text{HOCl}$) dan ion hipoklorit ($\text{OCl}^-$), keduanya adalah agen pembunuh patogen yang kuat. Penambahan **Koagulan Flokulan Air Limbah** di tahap awal membantu meningkatkan efektivitas desinfeksi karena mengurangi TSS yang dapat melindungi patogen.

Lihat Juga : Konsultan Pertek Air Limbah : Daftar Parameter Untuk Pertek Air Limbah

Bacaan terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *